Literasi

OPINI: Merayakan Hari Jadi, Merawat Jejak Sejarah

×

OPINI: Merayakan Hari Jadi, Merawat Jejak Sejarah

Sebarkan artikel ini

SUBANG, TINTAHIJAU.com — Pemerintah Kabupaten Subang menyambut Hari Jadi atau Milangkala Kabupaten Subang ke-78 yang jatuh pada 5 April 2026 dengan semangat “Ngabret” sebuah semangat bergerak cepat dalam pembangunan serta peningkatan pelayanan kepada masyarakat.

Berbagai kegiatan disiapkan untuk memeriahkan peringatan ini. Rangkaian acara tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga menyentuh bidang seni budaya, religi, kesehatan, hingga pelayanan publik sebagai wujud kedekatan pemerintah dengan masyarakat.

Sejumlah agenda telah disusun dalam rangka memeriahkan Milangkala Subang tahun ini.

Salah satu kegiatan yang digelar adalah Lomba Merias Gerbang yang diikuti oleh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) serta kantor kecamatan di seluruh wilayah Kabupaten Subang. Kegiatan ini berlangsung pada 30 Maret hingga 6 April 2026, menghadirkan suasana semarak di berbagai sudut lingkungan pemerintahan.

Selain itu, kegiatan religi dan budaya turut menjadi bagian penting dari rangkaian peringatan hari jadi. Di antaranya Bajidor Barungan yang akan digelar pada 15 April 2026, kemudian Istigosah Kubro pada 17 April 2026, serta Pagelaran Wayang Golek yang akan berlangsung di Alun-alun Subang pada tanggal yang sama.

Pada saat yang bersamaan, pemerintah daerah juga menyelenggarakan berbagai kegiatan kesehatan dan pelayanan publik. Program ini meliputi senam massal, pemeriksaan kesehatan gratis, serta berbagai layanan administrasi tanpa biaya bagi masyarakat. Kegiatan tersebut akan dilaksanakan di Halaman Kantor Bupati Subang pada 15–18 April 2026.

Sebagai puncak perayaan, masyarakat akan disuguhkan acara Subangfest yang digelar pada 19 April 2026 pukul 19.30 WIB di Amphiteater Kabupaten Subang. Acara ini diharapkan menjadi ruang kebersamaan bagi warga Subang sekaligus penutup rangkaian kegiatan Milangkala tahun ini.

Namun demikian, merayakan hari jadi sebuah daerah bukan semata menghadirkan kemeriahan tahunan. Peringatan tersebut juga menjadi momen untuk menengok kembali perjalanan sejarah panjang daerah yang telah membentuk identitasnya hingga hari ini.

Bangunan Kuno Subang, Jejak Waktu yang Tetap Dijaga

Di tengah perkembangan Kota Subang yang terus bergerak maju, sejumlah bangunan tua masih berdiri tenang, seakan menjadi penjaga ingatan masa lalu. Dindingnya yang tebal, jendela-jendela besar, serta halaman luas yang mengitarinya seolah mengisahkan perjalanan panjang sebuah wilayah yang pernah menjadi pusat perkebunan besar pada masa kolonial.

Bangunan-bangunan kuno itu tersebar di beberapa sudut kota. Sebagian berada di kawasan pusat pemerintahan, sebagian lainnya berdiri di sepanjang jalur utama kota. Meski usianya telah melampaui satu abad, banyak yang masih mempertahankan bentuk aslinya dengan ciri arsitektur khas Eropa.

Sejarah mencatat bahwa Subang pernah menjadi wilayah penting dalam jaringan perkebunan besar di Hindia Belanda. Perusahaan-perusahaan perkebunan yang beroperasi di wilayah ini membangun berbagai fasilitas penunjang, mulai dari kantor administrasi, rumah pejabat, hingga bangunan sosial sebagai tempat pertemuan dan hiburan.

Dari masa itulah lahir sejumlah bangunan yang kini dikenal sebagai bangunan kuno Subang.

Berbeda dengan banyak daerah lain yang kehilangan bangunan lama akibat modernisasi, sebagian bangunan bersejarah di Subang masih dapat disaksikan hingga sekarang. Dinding-dindingnya mungkin telah mengalami pemugaran, namun karakter aslinya tetap dipertahankan.

Atap tinggi, teras lebar, serta ventilasi besar menjadi ciri khas arsitektur kolonial yang dirancang untuk menyesuaikan dengan iklim tropis.

Menariknya, sebagian bangunan tersebut masih dimanfaatkan hingga saat ini. Ada yang difungsikan sebagai kantor, ada pula yang pernah dijadikan hotel atau pusat kegiatan masyarakat. Perubahan fungsi tersebut tidak menghilangkan nilai sejarahnya. Justru dari situlah bangunan-bangunan itu tetap hidup sebagai bagian dari dinamika kota.

Subang dan Jejak Perkebunan Kolonial

Pada abad ke-19 hingga awal abad ke-20, wilayah Subang berada dalam penguasaan perusahaan perkebunan besar bernama Pamanoekan en Tjiasem Landen (P&T Lands).

Perusahaan ini mengelola berbagai komoditas perkebunan seperti kopi dan teh dalam skala luas. Keberadaannya menjadikan Subang berkembang sebagai salah satu pusat kegiatan ekonomi kolonial di wilayah Jawa Barat.

Untuk menunjang kegiatan administrasi dan kehidupan para pejabat perkebunan, dibangunlah berbagai gedung besar, rumah pejabat, serta fasilitas sosial. Dari masa itulah lahir sejumlah bangunan yang kini masih dapat ditemukan di pusat Kota Subang.

Salah satu bangunan tua yang cukup dikenal di Subang adalah Wisma Karya, yang pada masa kolonial bernama Societeit.

Gedung ini dahulu menjadi tempat berkumpul para pejabat perkebunan dan kalangan elite Eropa. Selain sebagai tempat pertemuan, gedung ini juga berfungsi sebagai pusat hiburan yang dilengkapi berbagai fasilitas, seperti ruang pertunjukan, ruang biliar, hingga lintasan bowling.
Fungsi tersebut mencerminkan gaya hidup masyarakat kolonial yang menjadikan Subang sebagai wilayah perkebunan penting.

Kini bangunan ini masih berdiri di pusat kota, sebagai Museum Subang, tempat penyimpanan berbagai benda sejarah yang berkaitan dengan perjalanan Kabupaten Subang.

Bangunan bersejarah lainnya adalah bekas kantor besar perusahaan P&T Lands, yang pada masa berikutnya pernah difungsikan sebagai Hotel Subang Plaza.

Pada masa kolonial, gedung ini menjadi pusat administrasi perusahaan Inggris yang mengelola perkebunan di wilayah Subang. Setelah masa kemerdekaan, bangunan tersebut mengalami beberapa kali perubahan fungsi, termasuk sempat dijadikan hotel pada akhir abad ke-20.

Dalam beberapa tahun terakhir, kondisi bangunan ini terbengkalai dan kurang terawat, meskipun nilai sejarah yang dikandungnya tetap tinggi.

Bangunan-bangunan kuno di Subang memiliki arti penting bagi sejarah daerah karena:
Menjadi saksi perkembangan perkebunan kolonial di Jawa Barat.

Memiliki arsitektur khas Eropa kolonial yang relatif jarang ditemukan di daerah lain.

Menyimpan cerita perubahan sosial masyarakat Subang dari masa penjajahan hingga kemerdekaan.

Apabila dikelola dengan baik, bangunan-bangunan tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai objek wisata sejarah dan edukasi.

Wisatawan mancanegara pada umumnya memiliki ketertarikan kuat terhadap bangunan bersejarah yang masih mempertahankan bentuk aslinya. Dengan pengelolaan yang tepat, bangunan-bangunan lama ini dapat menjadi bagian penting dari pengembangan pariwisata Subang.

Bangunan kuno di Subang bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia merupakan bagian dari memori sejarah kota. Di tengah laju pembangunan yang terus bergerak maju, bangunan-bangunan itu tetap berdiri sebagai penanda perjalanan waktu, mengingatkan bahwa Subang pernah menjadi pusat perkebunan penting di Hindia Belanda sekaligus menjadi saksi perubahan zaman yang membentuk identitas daerah hingga hari ini.

Pada momen Milangkala Subang ke-78, merawat sejarah berarti juga menjaga jati diri kota, agar jejak perjalanan Subang tetap dikenang oleh generasi yang akan datang.

Oleh: Kin Sanubary