Entertainmen

Berkenalan dengan Adis Cokro, Musisi Jalanan Asal Subang

×

Berkenalan dengan Adis Cokro, Musisi Jalanan Asal Subang

Sebarkan artikel ini

SUBANG, TINTAHIJAU.com — Di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari warga Subang ada satu suara yang terasa akrab di telinga warga yautu petikan gitar dan nyanyian khas Adis Cokro. Dari warung kopi sederhana hingga sudut pasar dan gang-gang kecil perkampungan, lagu-lagu yang dibawakannya seolah menjadi teman bagi banyak orang yang sedang menjalani rutinitas hidup.

Adis bukan musisi panggung besar, bukan pula artis yang sering tampil di layar televisi. Namun kehadirannya justru memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Dengan langkah sederhana dan suara serak khasnya, ia menghadirkan hiburan yang dekat, hangat, dan terasa membumi.

Dengan gitar yang selalu ditentengnya, Adis berkeliling dari warung kopi, kios, pasar, gang-gang kecil perkampungan, kompleks perumahan, hingga hajatan warga dan emperan toko di kawasan Pagaden. Sesekali ia juga tampil di wilayah Subang Kota seperti daerah Pasirkareumbi, Sompi, Soklat, Pujasera, Wisma Karya, bahkan pernah mengamen hingga Cikampek, Bandung, dan Bogor.

Nama lengkapnya Adis Rahman Hakim, lahir di Subang pada 11 Maret 1981. Dunia musik jalanan mulai dikenalnya pada 2002 ketika ia mengamen sambil menggalang dana untuk kegiatan perayaan Agustusan. Dari pengalaman itu, Adis mulai menikmati proses bermusik di jalanan. Sejak 2004, ia benar-benar menekuni profesi tersebut dan menjadikannya sebagai mata pencaharian yang terus dijalani hingga sekarang.

Genre musik yang dibawakannya cukup beragam, mulai dari dangdut, lagu Sunda, pop alternatif, hingga tembang-tembang nostalgia. Ia juga dikenal akrab melayani permintaan lagu dari warga. Lagu-lagu yang sedang populer pun biasanya dapat ia bawakan dengan mudah.

Musisi yang paling menginspirasinya adalah Iwan Fals dan Slank. Tak heran jika lagu “Ibu” dan “Ku Tak Bisa” menjadi dua lagu yang paling sering ia dendangkan saat mengamen.

Perjalanan bermusiknya juga sempat membawanya masuk dapur rekaman. Adis pernah tampil di podcast Radio Aditya Subang dan melakukan rekaman di sebuah studio di kawasan Sukamiskin, Bandung, milik Kang Bentar. Ia pun pernah bergabung dengan grup musik Atap Rumah Band dan AIRA Band, bahkan sempat merilis album meski kini kedua grup tersebut sedang vakum.

Beberapa karya ciptaannya juga pernah tayang di YouTube, di antaranya Hanya Ingin Denganmu, Ku Tak Sempurna, dan Luntang-Lantung.

Salah satu pengalaman yang paling membanggakan baginya adalah ketika tampil bersama komedian Sule Sutisna dalam sebuah acara di Taman Anggur Prikitiw Land. Dalam kesempatan itu, Adis tampil mewakili seniman jalanan dari Pagaden, Subang.

Di luar aktivitas bermusik, Adis juga dipercaya warga menjadi Ketua RT 03 RW 01 Kampung Lengkong, Desa Pagaden. Amanah tersebut menunjukkan bahwa dirinya bukan hanya dikenal sebagai pengamen jalanan, tetapi juga sosok yang dekat dengan lingkungan masyarakat.

Penampilannya sederhana topi yang dibalikan, senyum ramah, dan suara khas yang sedikit serak dimakan perjalanan panjang jalanan. Namun justru di situlah kekuatannya. Lagu-lagu yang dibawakannya terasa dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.

Banyak warga hafal suara dan gayanya. Tak sedikit yang langsung menyapa ketika melihatnya melintas di jalan. Di warung-warung kopi, kehadiran Adis sering membuat suasana menjadi lebih hidup. Ada yang ikut bernyanyi, meminta lagu kenangan, hingga merekam penampilannya untuk dibagikan ke media sosial.

Di kalangan penggemarnya, ia akrab disapa “Adis Aweuuu”. Julukan itu muncul karena di setiap akhir lagu yang dinyanyikannya, Adis selalu menyelipkan seruan khas, “aweuuu”, yang kini menjadi ciri unik dirinya.

Bagi sebagian orang, Adis mungkin hanya seorang pengamen. Namun bagi banyak warga, ia adalah penghibur rakyat yang menghadirkan kehangatan di tengah rutinitas sehari-hari. Para sopir angkot, pedagang pasar, petani, hingga anak-anak muda mengenalnya dengan baik. Bahkan di beberapa tempat, Adis sudah dianggap seperti keluarga sendiri. Jika beberapa hari tak terlihat, warga sering bertanya, “Mang Adis Aweuuu kamana?”

Dalam perjalanannya mengamen, Adis juga ditemani Ahmad, seorang anak berbakat di bidang tarik suara yang telah meraih berbagai prestasi sejak duduk di bangku sekolah dasar hingga lulus SMA. Ahmad ikut bernyanyi sambil memainkan kendang paralon, menambah warna dalam penampilan mereka di jalanan.

Perjalanan sebagai musisi jalanan tentu tidak selalu mudah. Ada kalanya ramai saweran, namun tak jarang pula ia harus pulang dengan penghasilan seadanya. Meski begitu, Adis tetap menjalani semuanya dengan rasa syukur. Baginya, setiap perjalanan mengamen justru membuatnya memiliki banyak saudara dan kenalan baru.

Selain mengamen dari satu tempat ke tempat lain, Adis kini juga memanfaatkan media sosial untuk berkarya. Ia aktif membuat konten di Facebook dan TikTok melalui akun “Sahabat Aweuuu”, yang sekaligus menjadi tambahan penghasilan baginya.

Di tengah derasnya musik digital dan hiburan modern, Adis Cokro tetap bertahan dengan cara sederhana berjalan kaki, menenteng gitar, lalu menyapa orang-orang lewat lagu. Ia menjadi potret kecil tentang kesenian jalanan yang masih hidup di daerah, sederhana, jujur, dan penuh makna.

Suara gitar Adis mungkin lahir dari jalanan, tetapi kehangatan yang dibawanya telah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang di Pagaden. Di balik langkahnya yang sederhana, tersimpan kisah tentang ketekunan, persaudaraan, dan seni yang tumbuh dari kedekatan dengan masyarakat. Selama petikan gitarnya masih terdengar di sudut-sudut kampung, Adis Cokro akan tetap menjadi nada akrab yang menghidupkan suasana Pagaden.

Penulis: Kin Sanubary