Megapolitan

Kisah Keimanan Nenek Jumariah yang Menabung Rindu dalam Ember Usang

×

Kisah Keimanan Nenek Jumariah yang Menabung Rindu dalam Ember Usang

Sebarkan artikel ini
Jumariah, jemaah haji lansia asal Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan yang kini jadi ikon di Saudi. haji.go.id

JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Bagi sebagian orang, sebuah ember plastik usang hanyalah tempat menampung air di sudut dapur atau wadah mencuci pakaian yang terabaikan. Namun, di sebuah rumah panggung sederhana di pelosok Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, ember itu adalah sebuah tabut suci. Di dalam kegelapan dasarnya, tersimpan sebuah rahasia besar yang dirawat selama dua dekade oleh jemari renta seorang wanita bernama Jumariah. Setiap lembar rupiah yang ia selipkan secara sembunyi-sembunyi di sana bukan sekadar sisa uang belanja, melainkan sebuah proposal cinta yang ia ajukan langsung kepada Pemilik Alam Semesta.

Jumariah adalah perwujudan dari apa yang kita sebut dengan kesendirian yang absolut: sebatang kara. Di usianya yang telah menginjak kepala tujuh, ritme hidupnya berjalan dalam keheningan total sejak ia berpisah dengan sang suami. Ketika fajar menyingsing, tidak ada suara canda tawa anak atau pelukan hangat cucu yang menyambutnya. Ia melangkah sendirian di atas lantai kayu rumah panggungnya, memberi makan ayam-ayam peliharaan, dan memasak sarapan seadanya untuk dirinya sendiri.

Tepat pukul sembilan pagi, saat matahari mulai membakar bumi, tubuh rentanya menguji batas fisik yang kian digerus waktu. Bermodal sebilah sabit, ia berjalan menyusuri kebun ubi milik tetangganya untuk dirawat, lalu melangkah lagi sejauh 50 meter menuju sawah kecil miliknya yang hanya seluas 15 are. Menanam sendiri, merawat sendiri, menepis lelah sendiri, hingga memanen sendiri. Bagi dunia, ia mungkin terlihat rapuh, kecil, dan terabaikan. Namun, di dalam dadanya, bersemayam sebuah keyakinan yang megah. Jumariah sadar ia tidak pernah benar-benar sebatang kara. Ada Tuhan yang selalu memeluk kesunyiannya, dan iman itulah yang menggerakkan tekadnya untuk menginjakkan kaki di rumah-Nya, sekecil apa pun celah kesempatan yang ia miliki.

“Ketidakberdayaan fisik dan keterbatasan duniawi tidak akan pernah mampu memenjarakan sebuah jiwa yang telah merdeka dalam pelukan iman. Di mana ada niat yang tulus, di situ Tuhan membentangkan jalan-Nya.”

Dunia hari ini sering kali menilai kelayakan seseorang berdasarkan angka-angka, ijazah, jabatan, dan tingkat literasi. Jumariah tidak memiliki itu semua. Ia tidak pernah sedetik pun mengecap bangku sekolah; ia tidak bisa membaca, apalagi menulis. Jangankan memahami sistem perbankan yang rumit, ia hanya mengandalkan kepolosan imannya kepada Sang Pencipta. Dua puluh tahun lalu, tekad itu bulat. Setiap kali ia memeras keringat di bawah terik matahari dan mendapatkan upah—misalnya seratus sepuluh ribu rupiah—ia dengan sangat disiplin menyisihkan lima puluh ribu rupiah ke dalam ember persembunyiannya.

Secara logika manusia modern, bagaimana mungkin seorang janda tua pencari ubi bisa mengumpulkan puluhan juta rupiah untuk melintasi samudra menuju Baitullah? Namun, matematika Tuhan selalu berbeda dengan matematika manusia. Pada tahun 2011, keajaiban ember itu terbukti nyata. Lembar demi lembar yang dikumpulkan dalam sunyi menyentuh angka dua puluh kesembilan: dua puluh lima juta rupiah. Dituntun oleh kemenakan jauhnya, ia memberanikan diri mendaftarkan diri untuk berhaji. Sejac hari pendaftaran itu, ritme menabungnya tidak mengendur; justru kian menggila demi melunasi sisa biaya pelunasan yang terus membayangi.

Ketika namanya resmi tercantum sebagai jemaah yang berangkat pada musim haji 2026, semangatnya meledak bak mata air yang lama tersumbat. Jarak 15 kilometer dari rumahnya menuju lokasi manasik tidak ia anggap sebagai beban. Lebih dari 80 kali sesi manasik yang digelar oleh KBIHU ia lahap tanpa absen sekalipun. Nenek Jumariah selalu duduk di barisan paling depan, menyimak lamat-lamat setiap arahan muthawwif, merekam setiap doa dengan kalbunya, karena matanya tak mampu membaca buku panduan.

◆ ◆ ◆

Hari yang dinanti selama puluhan tahun itu akhirnya tiba. Di bawah terik langit Makkah, Minggu (10/5), Jumariah berulang kali mengusap wajahnya dengan ujung kerudung hitam yang ia kenakan. Jantung perempuan lanjut usia itu berdebar kencang saat kakinya melangkah masuk pelataran Masjidil Haram. Momen magis yang selama ini hanya ada di dalam mimpinya kini tegak berdiri persis di depan matanya. Bangunan kubus megah terbungkus kain kiswah hitam itu kini nyata.

Runtuhlah seluruh pertahanannya. Air mata Jumariah tumpah berlinang, membasahi pipi rentanya yang berkerut dihantam usia. Kerinduan yang ia panjatkan dalam doa selama puluhan tahun silam—sebuah mimpi yang ia rawat dalam kesendirian yang teramat sunyi—kini telah dibayar tunai oleh Tuhan.

“Saya senang bisa melihat Ka’bah,” ucapnya lirih dengan mata yang kembali berkaca-kaca saat ditemui di Hotel Asrar al Tayseer, Makkah. Kalimat sederhana yang meluncur dari bibirnya mengandung kedalaman rasa syukur yang tak terukur. Seluruh peluh saat menyiangi padi, setiap rasa perih di jemari rentanya saat memotong ubi, dan setiap malam sepi yang ia lalui di rumah panggungnya, seketika menguap, digantikan oleh kedamaian yang tiada tara.

Kini, jalannya tinggal selangkah lagi menuju rute terakhir dari penantian panjangnya: wukuf di Padang Arafah. Di bawah hamparan langit tempat berkumpulnya jiwa-jiwa yang pasrah, janda sebatang kara ini akan berdialog langsung dengan Tuhannya, menuntaskan seluruh kerinduan yang selama puluhan tahun ini terkunci rapat di dalam sebuah ember tabungan.

Kisah Ibu Jumariah adalah tamparan keras sekaligus pelita bagi kita yang sering mengeluh dalam kecukupan. Jika Anda hari ini merasa tidak berdaya karena modal yang minim, keterbatasan pendidikan, atau ketiadaan support system di samping Anda, ingatlah pada ember plastik di Maros. Bukan besarnya nominal yang mengetuk pintu langit, melainkan kemurnian niat dan konsistensi perjuangan yang dilakukan tanpa henti. Berhentilah membuat alasan, mulailah melangkah dengan apa yang ada di tanganmu, dan biarkan Tuhan yang menyempurnakan sisanya.

Tuhan tidak memanggil mereka yang mampu, tetapi Tuhan memampukan mereka yang terpanggil. Perjuangan bersahaja Jumariah kini tidak hanya menjadi milik Maros atau Indonesia. Kegigihannya telah mengetuk hati dunia, hingga Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi menjadikannya sebagai ikon internasional dalam video dokumenter “Makkah Route 2026”. Seorang nenek buta huruf pencari ubi kini wajahnya ditonton dan menginspirasi jutaan umat manusia di seluruh dunia. Ketika Anda melibatkan Tuhan dalam setiap impian, kesendirianmu akan berubah menjadi kemuliaan, dan keterbatasanmu akan diubah-Nya menjadi keajaiban yang abadi.

(Sebab bagi Allah, tidak ada yang mustahil bagi hati yang benar-benar rindu).

Di atas hamparan bumi Maros yang sepi, rumah panggung itu kini tidak lagi terasa lengang. Meski raga Nenek Jumariah kembali ke rutinitas bersahajanya—menyuapi ayam dan merawat kebun ubi di bawah terik matahari—jiwanya telah abadi di pelataran Baitullah. Kisahnya adalah bukti nyata bahwa di hadapan Tuhan, Anda tidak pernah benar-benar sebatang kara. Ketika dunia menutup mata karena keterbatasan dan ketidakberdayaan Anda, langit justru sedang mempersiapkan penyambutan yang paling megah.

Maka, dekaplah impianmu seerat mungkin, sekecil apa pun modal yang kamu miliki hari ini. Karena jika sebuah ember plastik usang di tangan seorang wanita tua yang buta huruf mampu mengantarkannya menembus batas ruang dan waktu menuju kiblat dunia, maka tidak ada alasan bagi kita untuk menyerah pada keadaan. Teruslah melangkah, teruslah mengetuk pintu-Nya dalam sunyi, hingga tiba saatnya giliran keajaibanmu yang akan menginspirasi dunia.

Disarikan dari CNN Indonesia