Olahraga

Kebijakan Hydration Break di Piala Dunia 2026 Tuai Kritik, Dinilai Ganggu Ritme hingga Jadi Celah Timeout Taktis

×

Kebijakan Hydration Break di Piala Dunia 2026 Tuai Kritik, Dinilai Ganggu Ritme hingga Jadi Celah Timeout Taktis

Sebarkan artikel ini
Hydration Break FIFA World Cup 2026 | Photo by Visionhaus/Getty Images

ATLANTA, TINTAHIJAU.com — Penerapan kebijakan jeda hidrasi (hydration break) oleh FIFA pada gelaran Piala Dunia 2026 menuai gelombang kritik dari sejumlah pihak. Aturan yang awalnya ditujukan untuk menjaga kondisi fisik pemain di tengah cuaca panas ekstrem kini dinilai mengubah karakter permainan sepak bola, membuka ruang strategi tambahan bagi pelatih, hingga memunculkan tudingan komersialisasi siaran televisi.

Dalam regulasi baru tersebut, wasit diwajibkan menghentikan pertandingan pada menit ke-22 di setiap babak selama tiga menit. Kebijakan ini berlaku di seluruh pertandingan tanpa mempertimbangkan lokasi maupun kondisi suhu di stadion.

Kritik keras datang dari mantan penyerang Timnas Inggris, Alan Shearer. Ia menilai jeda tersebut dapat menghilangkan momentum tim, terutama bagi negara yang tengah mencoba memberi kejutan saat menghadapi lawan yang lebih kuat.

Shearer mencontohkan laga Curacao melawan Jerman di Houston. Saat Curacao berhasil menyamakan kedudukan menjadi 1-1 dan mulai membangun tekanan, pertandingan justru dihentikan untuk jeda hidrasi hanya beberapa saat setelah gol tercipta.

Menurut Shearer, momentum yang sedang dibangun Curacao langsung terputus. Setelah pertandingan kembali dilanjutkan, tim tersebut kebobolan dua gol sebelum turun minum dan akhirnya menyerah dengan skor telak 1-7.

“Saya benar-benar kasihan pada mereka. Mereka baru saja mencetak gol dan mungkin 30 detik setelah itu laga dihentikan. Jeda itu telah membunuh momentum mereka,” ujarnya dalam siniar The Rest is Football.

Pandangan serupa disampaikan mantan kapten Manchester United, Roy Keane. Ia menilai sepak bola kehilangan ciri khas utamanya, yakni aliran permainan yang terus berjalan tanpa banyak interupsi.

“Kita mencintai sepak bola karena tempo permainannya. Apa yang terjadi saat ini adalah menghentikan aliran laga dan momentum,” katanya dalam siniar The Overlap.

Jadi Celah Strategi Pelatih

Data awal turnamen menunjukkan hydration break memberi dampak langsung terhadap jalannya pertandingan. Dalam 16 laga pertama Piala Dunia 2026, tercatat delapan gol tercipta dalam rentang 10 menit setelah pertandingan dilanjutkan usai jeda.

Sejumlah negara seperti Kanada, Amerika Serikat, Australia, Skotlandia, Swedia, dan Iran disebut mampu memanfaatkan momentum tersebut melalui gol cepat.

Sebaliknya, Maroko kehilangan keunggulan saat menghadapi Brasil di New Jersey. Setelah tampil dominan, fokus permainan mereka disebut pecah selepas jeda hingga Vinicius Junior mencetak gol penyama kedudukan.

Fenomena itu diakui sejumlah pelatih sebagai konsekuensi logis dari adanya waktu tambahan untuk memberikan instruksi taktis.

Pelatih Timnas Belanda, Ronald Koeman, mengakui jeda hidrasi dapat dimanfaatkan untuk mengevaluasi permainan secara cepat.

“Anda bisa menggunakan jeda ini untuk memberi tahu pemain apa yang perlu ditingkatkan, apa yang sudah bagus, atau apa yang harus dilakukan dengan lebih baik. Kami akan memanfaatkannya untuk keuntungan kami,” ujarnya.

Sementara itu, pelatih Timnas Prancis, Didier Deschamps, menilai sepak bola modern kini menuntut adaptasi terhadap perubahan.

“Ini bukan lagi dua babak, melainkan empat kuarter. Ini adalah hal yang sudah diputuskan, jadi pemain dan pelatih harus beradaptasi dengan realitas baru ini,” katanya.

Dipertanyakan di Stadion Berpendingin dan Dikritik karena Iklan

Kebijakan yang berlaku seragam juga memunculkan pertanyaan dari kalangan pelatih. Salah satunya ketika pertandingan Spanyol melawan Tanjung Verde di Atlanta tetap dihentikan meski berlangsung di stadion tertutup dengan fasilitas pendingin ruangan.

Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, menilai jeda tersebut masuk akal jika diterapkan dalam suhu ekstrem, namun tidak selalu relevan untuk kondisi stadion yang sejuk.

Pandangan serupa disampaikan pelatih Norwegia, Staale Solbakken, yang menyebut aturan itu lebih tepat diterapkan saat suhu mencapai tingkat yang benar-benar tinggi.

Penolakan juga mulai terdengar dari tribun penonton. Sorakan ejekan sempat muncul ketika pertandingan Irak melawan Norwegia dihentikan untuk jeda hidrasi pertama.

Di luar aspek teknis, kritik turut diarahkan pada sisi komersial. Sejumlah pihak menilai aturan tersebut membuka ruang bagi pemegang hak siar untuk menayangkan iklan di tengah pertandingan.

Stasiun televisi FOX Sports dilaporkan langsung menayangkan iklan saat jeda berlangsung di Amerika Serikat, sementara Telemundo memilih tetap menampilkan jalannya pertandingan.

Kapten Timnas Belanda, Virgil van Dijk, secara terbuka mengkritik praktik tersebut.

“Setiap kali selalu dipotong iklan, itu bukan sesuatu yang saya sukai. Saya pikir bagi penonton netral yang menyaksikan di rumah, hal tersebut juga tidak menyenangkan,” ujarnya.

Hingga kini, FIFA belum menyampaikan apakah kebijakan hydration break akan menjadi aturan permanen untuk turnamen internasional berikutnya. Namun, Asosiasi Sepak Bola Inggris disebut tidak berencana menerapkan regulasi serupa pada penyelenggaraan Euro 2028 mendatang.

Sumber: KOMPAS