SUBANG, TINTAHIJAU.com – Di tengah arus industri musik yang bergerak cepat, lahir musisi-musisi muda yang tidak hanya ingin terdengar, tetapi juga ingin dikenang. Dari Bandung, Riefki Cipta hadir sebagai salah satu nama yang menempuh jalur proses, mengasah diri dari panggung kecil hingga berani melahirkan karya orisinal yang mencerminkan identitasnya.
Riefki Cipta, musisi muda asal Kota Bandung, mulai menapaki perjalanan bermusiknya pada awal pandemi Covid-19 di era 2020-an. Di balik usianya yang relatif muda, ia menyimpan tekad kuat untuk tidak sekadar tampil, melainkan berkarya dengan kesungguhan dan dedikasi.
Langkah awalnya tidak instan. Riefki mengasah kemampuan melalui sesi jamming bersama grup Mat Bitel, membawakan lagu-lagu klasik dari The Everly Brothers, The Beatles, hingga berbagai nomor oldies. Fase ini menjadi ruang belajar sekaligus pembuktian, tempat ia mengukur kapasitas musikalnya di hadapan publik.
Memasuki tahun 2020, saat pandemi melanda, Riefki sempat menghilang dari panggung. Namun masa jeda itu justru dimanfaatkannya untuk memperdalam kemampuan vokal dan gitar di bawah bimbingan sang ayah, Sonny Bugytech. Dari proses inilah lahir band Crossroads, yang mengusung aliran blues dengan referensi kuat pada gaya permainan Eric Clapton.
Selama satu tahun penuh, Riefki berlatih secara konsisten hingga mencapai kematangan musikal. Bersama Crossroads, ia aktif tampil sejak 2021 hingga 2025. Band ini tidak sekadar hadir sebagai pengisi panggung, tetapi menunjukkan kualitas permainan yang serius dan berkarakter.
Kematangan tersebut tercermin dalam sejumlah live recording yang mereka produksi. Dengan sentuhan produksi Sonny Bugytech yang berpengalaman, hasil rekaman terdengar solid dan enak dinikmati. Materi tersebut kemudian dirilis melalui kanal YouTube resmi mereka dan mendapat respons positif dari pendengar.
Perjalanan Riefki semakin mendapat pengakuan ketika ia dipercaya tampil bersama sejumlah musisi senior, seperti Benny Soebardja, Fariz RM, Chandra Darusman, hingga Tantowi Yahya. Pengalaman ini menjadi bekal penting dalam membangun kepercayaan diri dan arah musikalnya.
Berbekal proses tersebut, Riefki melangkah lebih jauh dengan menciptakan karya sendiri. Ia membentuk proyek baru bernama The Neo’s dan merilis tiga lagu orisinal: Impian dan Naungan, Berdansa di Sudut Kota, dan Bukan Itu. Dua lagu terakhir menghadirkan nuansa aransemen khas era 1980-an, dengan warna musikal yang mengingatkan pada gaya Fariz RM dan Chandra Darusman.
Ketiga karya tersebut kini telah tersedia di Spotify dan mencatatkan sekitar 63.000 pendengar, sebuah capaian yang patut diapresiasi bagi musisi independen yang tengah berkembang.
Sebagai bentuk apresiasi sekaligus ruang diskusi, karya-karya Riefki akan dibedah dalam acara RESONANSIA yang menghadirkan kurator musik Sonny Bugytech, Gugun Sommah, dan Alda Abdillah. Acara ini digelar pada Sabtu, 25 April 2026, pukul 18.30 WIB di Lima Tujuh Coffee, Jalan PHH Mustofa No. 57 Bandung, serta menampilkan The Neo’s dan Gubby.
Perjalanan Riefki Cipta menegaskan bahwa musik bukan sekadar soal tampil di atas panggung, melainkan tentang proses panjang menemukan jati diri. Dari ruang-ruang jamming hingga karya orisinal yang mulai mendapat tempat, ia menunjukkan bahwa konsistensi dan keberanian untuk mencipta adalah kunci. Sebab pada akhirnya, seorang musisi akan benar-benar dikenali bukan dari lagu yang ia bawakan, tetapi dari karya yang ia lahirkan.
Penulis: Kin Sanubary





