Literasi

OPINI | Tahun Baru Islam: Saatnya Berhijrah dari Korupsi, Kemalasan, dan Ketidakjujuran

×

OPINI | Tahun Baru Islam: Saatnya Berhijrah dari Korupsi, Kemalasan, dan Ketidakjujuran

Sebarkan artikel ini

Setiap kali Tahun Baru Islam tiba, umat Muslim diingatkan pada peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Peristiwa besar itu bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan transformasi peradaban.

Hijrah adalah keberanian meninggalkan kondisi yang buruk menuju keadaan yang lebih baik, meninggalkan kemunduran menuju kemajuan, dan meninggalkan ketidakadilan menuju kehidupan yang lebih bermartabat.

Sayangnya, dalam kehidupan modern, makna hijrah sering kali dipersempit hanya pada perubahan simbolik. Padahal, tantangan terbesar bangsa saat ini bukan terletak pada penampilan, melainkan pada krisis integritas yang masih menggerogoti berbagai sektor kehidupan. Karena itu, momentum Tahun Baru Islam semestinya menjadi ajakan untuk berhijrah dari tiga penyakit sosial yang paling merusak: korupsi, kemalasan, dan ketidakjujuran.

Korupsi adalah bentuk pengkhianatan terhadap amanah. Ia bukan hanya persoalan hukum, melainkan juga persoalan moral dan spiritual. Setiap rupiah uang rakyat yang diselewengkan sesungguhnya adalah hak masyarakat yang dirampas. Jalan yang seharusnya dibangun menjadi rusak, pelayanan publik menjadi terhambat, dan kesejahteraan masyarakat menjadi tertunda.

Dalam perspektif hijrah, korupsi adalah perilaku yang harus ditinggalkan tanpa kompromi. Tidak ada ruang bagi penyalahgunaan kekuasaan, sekecil apa pun. Jabatan sejatinya adalah amanah yang kelak dipertanggungjawabkan, bukan hanya di hadapan masyarakat, tetapi juga di hadapan Allah SWT. Karena itu, Tahun Baru Islam harus menjadi pengingat bahwa integritas bukan pilihan, melainkan kewajiban.

Selain korupsi, bangsa ini juga menghadapi persoalan budaya malas yang kerap menghambat kemajuan. Kemalasan tidak selalu tampak dalam bentuk tidak bekerja. Ia bisa hadir dalam bentuk menunda pekerjaan, bekerja asal-asalan, enggan berinovasi, atau merasa cukup dengan keadaan yang ada. Padahal Islam mengajarkan pentingnya kerja keras, disiplin, dan produktivitas.

Tidak ada peradaban besar yang lahir dari kemalasan. Kemajuan bangsa dibangun oleh manusia-manusia yang memiliki semangat belajar, semangat bekerja, dan semangat memberi manfaat. Hijrah yang sesungguhnya adalah ketika seseorang mampu meninggalkan zona nyaman dan terus berupaya meningkatkan kualitas dirinya dari waktu ke waktu.

Penyakit sosial ketiga yang tidak kalah berbahaya adalah ketidakjujuran. Saat kebohongan dianggap biasa, kepercayaan akan runtuh. Ketika kejujuran kehilangan nilai, maka hubungan sosial, ekonomi, bahkan pemerintahan akan mengalami krisis legitimasi. Ketidakjujuran dapat muncul dalam berbagai bentuk: manipulasi data, penyebaran informasi palsu, pelanggaran janji, hingga praktik-praktik curang dalam kehidupan sehari-hari.

Padahal, salah satu fondasi utama kehidupan yang sehat adalah kepercayaan. Dan kepercayaan hanya dapat tumbuh dari kejujuran. Karena itu, hijrah menuju kejujuran bukan hanya kebutuhan pribadi, melainkan kebutuhan sosial yang mendesak.

Momentum Tahun Baru Islam hendaknya tidak berhenti pada ucapan selamat atau seremoni tahunan. Lebih dari itu, ia harus menjadi momentum muhasabah kolektif. Apakah kita sudah bekerja dengan sungguh-sungguh? Apakah kita telah menjaga amanah yang diberikan? Apakah kita masih memegang teguh kejujuran dalam setiap tindakan?

Hijrah yang paling sulit memang bukan berpindah tempat, melainkan berpindah sikap dan perilaku. Namun justru dari perubahan itulah lahir masyarakat yang lebih baik. Jika korupsi digantikan oleh integritas, kemalasan digantikan oleh produktivitas, dan ketidakjujuran digantikan oleh kejujuran, maka sesungguhnya kita sedang membangun peradaban yang dicita-citakan oleh nilai-nilai Islam.

Tahun Baru Islam 1448 Hijriah adalah pengingat bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk memulai lembaran baru. Saatnya berhijrah. Bukan hanya dalam kata-kata, tetapi dalam tindakan nyata.

Berhijrah dari korupsi menuju amanah, dari kemalasan menuju kerja keras, dan dari ketidakjujuran menuju integritas. Sebab perubahan besar bangsa ini selalu dimulai dari perubahan kecil dalam diri setiap warganya.

Annas Nashrullah, Pegiat Literasi Hijau Subang