Megapolitan

Dolar AS Masih Kuat, Rupiah Hari Ini Dibuka Turun Tipis ke Rp18.115

×

Dolar AS Masih Kuat, Rupiah Hari Ini Dibuka Turun Tipis ke Rp18.115

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, TINTAHIJAU.com – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan Selasa pagi dengan pelemahan minor. Pergerakan ini terjadi seiring dengan sikap wait-and-see para pelaku pasar yang menantikan rilis data inflasi terbaru serta pidato dari pejabat otoritas moneter AS.

Pada pembukaan pasar, mata uang Garuda terkoreksi sebesar 6 poin atau setara 0,03 persen, membawa rupiah ke level Rp18.115 per dolar AS. Pada penutupan perdagangan di hari sebelumnya, rupiah berada di posisi Rp18.109 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menjelaskan bahwa dinamika yang menekan mata uang domestik ini lebih didominasi oleh pergerakan sentimen global daripada faktor internal dari dalam negeri.

“Saya memperkirakan rupiah bergerak terbatas di kisaran Rp18.060–Rp18.170 per dolar AS, dengan titik tengah sekitar Rp18.100–Rp18.120 per dolar AS. Biasanya masih cenderung lemah terbatas, bukan karena sentimen domestik sepenuhnya buruk, tetapi karena pasar masih menunggu data inflasi AS dan pernyataan ketua bank sentral AS pada 14 Juli,” ujarnya seperti yang dikutip dari laman ANTARA di Jakarta, Selasa (14/7/2026).

Lebih lanjut, Josua memaparkan dua skenario yang mungkin terjadi. Jika realisasi inflasi AS di bawah ekspektasi pasar dan bank sentral AS menunjukkan sinyal pelonggaran kebijakan (dovish), nilai tukar rupiah berpeluang menguat menuju rentang Rp18.030 hingga Rp18.080 per dolar AS.

Namun sebaliknya, apabila inflasi inti AS tetap menunjukkan angka yang tinggi atau jika pejabat bank sentral memilih untuk bersikap lebih restriktif (hawkish) terkait arah kebijakan moneter ke depan, rupiah diprediksi berisiko melemah ke area Rp18.180 hingga Rp18.220 per dolar AS.

Proyeksi pasar saat ini memperkirakan inflasi tahunan AS untuk bulan Juni akan melambat di angka 3,9 persen, walaupun inflasi inti diprediksi masih belum bergerak dari level 2,9 persen.

“Ini penting karena jika inflasi inti tetap membandel, ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi lebih lama akan menguat, dolar AS kembali diminati, dan rupiah kembali tertekan,” kata Josua.

Di samping ketidakpastian inflasi, pergerakan negatif mata uang rupiah juga dipicu oleh lonjakan harga minyak internasional. Harga minyak mentah jenis Brent terpantau naik 3,43 persen ke level 78,6 dolar AS per barel, yang berarti telah mengakumulasi penguatan sebesar 29,2 persen sepanjang tahun berjalan ini.

Menurut Josua, sebagai negara pengimpor bersih (net importer) minyak, kenaikan komoditas energi ini dapat membebani rupiah akibat potensi membengkaknya beban impor, penambahan anggaran subsidi, tekanan inflasi internal, serta risiko terhadap neraca transaksi berjalan dan cadangan devisa nasional.

Kendati demikian, rupiah mendapatkan asupan sentimen positif dari eksternal berkat langkah S&P Global Ratings yang tetap mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan prospek yang stabil.

Lembaga pemeringkat internasional tersebut menilai bahwa penurunan kondisi fiskal serta sektor luar negeri Indonesia hanya bersifat sementara. Hal ini dikarenakan struktur ekonomi Indonesia masih ditopang oleh pemulihan pendapatan negara, performa ekspor komoditas yang meningkat, serta komitmen kuat dari pemerintah untuk membatasi defisit APBN agar tidak melewati batas tiga persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Walau begitu, S&P memberikan catatan khusus mengenai depresiasi rupiah yang telah tergerus sekitar tujuh persen pada paruh pertama tahun ini, sehingga menuntut adanya langkah antisipasi terhadap tekanan pada sektor fiskal dan eksternal secara berkelanjutan.

“Jadi, keputusan S&P membantu menahan tekanan, tetapi belum cukup kuat untuk mendorong penguatan rupiah besar-besaran,” ujar Josua menutup penjelasannya.