Megapolitan

Ini Alasan Pavel Durov CEO Telegram Ditangkap Pihak Berwenang di Prancis

×

Ini Alasan Pavel Durov CEO Telegram Ditangkap Pihak Berwenang di Prancis

Sebarkan artikel ini
Pavel Durov, pendiri Telegram, ditangkap di Prancis. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

JAKARTA, TINTAHIJAU.com – Chief Executive Officer (CEO) Telegram, Pavel Durov, ditangkap oleh polisi Prancis di Bandara Le Bourget, Paris Utara. Penangkapan miliarder berusia 39 tahun ini dilakukan setelah jet pribadinya mendarat di bandara tersebut, menurut laporan media setempat.

Durov ditahan atas dasar surat perintah terkait pelanggaran dalam aplikasi Telegram, di mana ia dituduh gagal mengambil langkah-langkah untuk membatasi penggunaan platform tersebut untuk aktivitas kriminal. Investigasi yang dilakukan mengarah pada kurangnya moderasi di aplikasi pesan instan tersebut.

Tuduhan Terhadap Telegram

Telegram dituduh tidak bekerja sama dengan penegak hukum dalam beberapa kasus, termasuk perdagangan narkoba, konten seksual anak, dan penipuan. Meskipun demikian, Telegram secara konsisten membantah tuduhan memiliki moderasi yang tidak memadai, dan mengklaim bahwa mereka telah melakukan langkah-langkah yang cukup untuk menjaga keamanan platform.

Durov, yang lahir di Rusia dan saat ini menetap di Dubai, memiliki kewarganegaraan ganda Uni Emirat Arab dan Prancis. Telegram sendiri sangat populer di negara-negara bekas Uni Soviet, termasuk Rusia dan Ukraina. Namun, aplikasi ini sempat dilarang di Rusia pada tahun 2018 setelah Durov menolak menyerahkan data pengguna. Larangan tersebut akhirnya dicabut pada 2021.

Dukungan dan Reaksi Internasional

Penangkapan Durov memicu reaksi dari berbagai pihak, termasuk pejabat Rusia yang mengecam tindakan tersebut. Beberapa pejabat menuding bahwa penangkapan ini menunjukkan standar ganda Barat terkait kebebasan berpendapat dan demokrasi.

Edward Snowden, pelapor asal Amerika yang kini tinggal di Rusia, menanggapi penangkapan Durov melalui akun media sosial X, menyebutnya sebagai serangan terhadap hak asasi manusia. Di sisi lain, pemilik X, Elon Musk, juga turut mengomentari kasus ini dengan menggunakan tagar #freepavel di beberapa unggahannya, termasuk satir mengenai kebebasan berbicara di Eropa.

Moderasi Konten di Telegram

Sebagai aplikasi yang memungkinkan grup dengan anggota hingga 200.000 orang, Telegram sering kali menjadi sorotan karena dugaan penyebaran informasi yang salah, serta berbagai konten ilegal yang dianggap konspiratif atau ekstremis. Di Inggris, aplikasi ini juga disorot karena menjadi platform bagi saluran sayap kanan yang mengorganisir kekerasan di beberapa kota.

Meskipun Telegram telah menghapus beberapa kelompok, para ahli keamanan siber menilai bahwa sistem moderasi platform ini masih jauh lebih lemah dibandingkan dengan platform media sosial lainnya seperti Facebook dan Instagram.

Penangkapan Pavel Durov kini tengah menjadi perhatian global, dengan banyak pihak menanti perkembangan lebih lanjut terkait tuduhan terhadap Telegram serta langkah hukum yang akan diambil selanjutnya.