Megapolitan

Nasib Jembatan Miliaran Rupiah Penghubung Ciamis–Tasikmalaya Kini Merana dan Diboikot

×

Nasib Jembatan Miliaran Rupiah Penghubung Ciamis–Tasikmalaya Kini Merana dan Diboikot

Sebarkan artikel ini
Jembatan gantung Sukamenak, penghubung Tasikmalaya dan Ciamis. Jembatan senilai Rp 5 miliar ini kini ditutup sementara (Foto: Dadang Hermansyah/detikJabar)

CIAMIS, TINTAHIJAU.com — Proyek infrastruktur jembatan gantung senilai Rp5 miliar yang menghubungkan Kabupaten Ciamis dan Kota Tasikmalaya kini bernasib memprihatinkan. Alih-alih menjadi urat nadi transportasi dan mendongkrak ekonomi antardaerah, Jembatan Sukamenak tersebut justru diblokir sepihak menggunakan tumpukan rumpun bambu.

Aksi penutupan jalan penyeberangan ini diinisiasi oleh Kepala Desa Wanasigra sejak enam hari terakhir. Langkah ekstrem tersebut diambil sebagai puncak kekecewaan warga Ciamis atas polemik kesepakatan lahan yang dinilai tidak adil dan transparan. Ironisnya, sejak rampung dibangun pada tahun 2024 silam, jembatan megah ini memang belum pernah berfungsi secara optimal.

Kontras Akses Lahan dan Dugaan Ketidakadilan

Penyebab utama terbengkalainya jembatan ini adalah ketiadaan akses jalan di sisi Desa Sukamenak, Kecamatan Purbaratu, Kota Tasikmalaya. Kondisi ini berbanding terbalik dengan wilayah Desa Wanasigra, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, yang akses jalannya sudah diaspal mulus hingga ke bibir jembatan.

Berdasarkan pantauan di lokasi pada Kamis (2/7/2026), kemegahan jembatan bernilai miliaran rupiah itu kini diselimuti kesunyian. Tidak ada aktivitas mobilitas warga yang melintas. Kawasan tersebut hanya dimanfaatkan oleh segelintir orang untuk memarkir motor dan memancing ikan di sungai.

Maman Suherman, salah satu warga setempat yang menghibahkan tanah pribadinya tanpa ganti rugi demi proyek ini, mengaku sangat kecewa setelah mengetahui adanya perbedaan perlakuan kompensasi lahan antara kedua wilayah.

“Dari Tasik belum ada akses, hanya ada jalan setapak, hanya bisa dilewati pejalan kaki. Awalnya saya bersedia (hibah) karena mendapat informasi di sisi Tasikmalaya juga melakukan hal serupa. Tapi kemarin mendengar dari warga di Tasikmalaya ada penggantian (uang). Yang jadi pertanyaan, di sini swadaya tapi di sana ada penggantian,” ungkap Maman.

Padahal, Maman menceritakan bahwa proses awal pengajuan proyek ini justru digagas oleh pihak Tasikmalaya yang meminta izin penggunaan lahannya atas dasar swadaya. Merasa ada ketidakadilan yang mencederai komitmen awal, ia kini mendukung penuh aksi penutupan oleh pihak desa.

Blokade Bambu Tanpa Batas Waktu

Kepala Desa Wanasigra, Yudi Wahyudi, menegaskan bahwa blokade rumpun bambu di jembatan tersebut tidak memiliki batas waktu. Pihaknya menuntut penjelasan resmi dari Pemerintah Kota Tasikmalaya terkait ketimpangan komitmen hibah lahan yang dinilai mencederai rasa keadilan warga Ciamis.

“Persoalannya, kenapa jembatan ini dibangun terlebih dulu ketika akses belum ada. Kemudian kaitan dengan lahan akses jalan, merasa dibohongi, ada pengkhianatan cinta. Ini aksi kekecewaan saja,” tutur Yudi.

Meskipun akses jembatan kini tertutup total, Yudi memastikan bahwa aktivitas ekonomi warga Wanasigra tidak terganggu karena masyarakat masih mengandalkan jalur utama yang ada. Secara sosiologis, warga di kedua sisi sungai tersebut juga tidak memiliki keterikatan keluarga atau kepemilikan lahan yang mengharuskan mereka menyeberang setiap hari.