Megapolitan

Tak Terima Dirazia Saat ‘Mokel’, Preman Kampung di Garut Duel dengan Kapolsek

×

Tak Terima Dirazia Saat ‘Mokel’, Preman Kampung di Garut Duel dengan Kapolsek

Sebarkan artikel ini
Momen panas antara Kapolsek Pakenjeng Iptu Muslih Hidayat dengan preman Garut bernama Tito Kobra. Foto: Istimewa

GARUT, TINTAHIJAU.com – Jagat media sosial dihebohkan oleh beredarnya sebuah video amatir yang merekam perkelahian sengit antara Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) dan seorang preman di wilayah Kabupaten Garut. Belakangan terungkap bahwa pemicu insiden adu fisik tersebut adalah rasa tidak terima sang preman karena ditegur saat kedapatan makan siang atau mokel di bulan suci Ramadan. Tak hanya itu, pelaku juga nekat melontarkan ancaman pembunuhan terhadap aparat setempat.

Peristiwa yang menyita perhatian publik ini terjadi di Kecamatan Pakenjeng, Garut, pada Jumat (13/3/2024) sore. Sosok aparat penegak hukum yang terekam dalam video berdurasi lebih dari empat menit itu adalah Kapolsek Pakenjeng, Iptu Muslih Hidayat, yang tengah berhadapan dengan warga bernama Tio alias Tito Kobra.

Dalam rekaman yang beredar luas tersebut, keduanya tampak terlibat baku hantam yang cukup panas.

“Kamu pikir saya takut sama kamu?,” teriak Kapolsek kepada Tito Kobra dalam video tersebut.

Kronologi Awal Mula Kejadian

Saat dikonfirmasi pada Sabtu (14/3/2024) pagi, Iptu Muslih memaparkan bahwa benih konflik ini sebenarnya sudah muncul sekitar sepuluh hari sebelumnya. Pada waktu itu, usai menghadiri kegiatan Safari Ramadan, ia sedang berpatroli melewati kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTM) Pakenjeng.

“Saat berada di PLTM, saya merasa aneh. Ada banyak motor, tapi orangnya tidak ada. Kemudian saya telusuri, ternyata orang-orangnya ada di bawah sedang minim-minum,” kata Muslih.

Di lokasi tersebut, Muslih mendapati delapan orang pemuda, termasuk Tito Kobra, tengah asyik tidak berpuasa. Sebagai bentuk teguran dan penegakan kedisiplinan, Muslih memberikan sanksi fisik berupa push-up kepada para pemuda tersebut.

“Karena kan kami juga memiliki dasar Maklumat Bupati Garut tentang imbauan di bulan Ramadan,” katanya.

Ancaman Pembunuhan Berujung Duel

Meski hari itu kejadian dianggap telah selesai, persoalan memanas kembali pada Jumat (13/3/2024). Ketika Muslih tengah mengadakan kegiatan berbagi takjil bersama komunitas pemuda setempat, Tito secara tiba-tiba menghampirinya. Pria tersebut meluapkan kekesalannya dan mengaku merasa dipermalukan atas tindakan razia yang dilakukan sang Kapolsek tempo hari. Walau Muslih telah mencoba menjelaskan posisinya sebagai penegak aturan, Tito tetap bersikeras tidak terima.

“Saat itu yang bersangkutan ngedumel karena merasa dicemarkan nama baiknya. Berbicara kasar dan memaki saya. Saya diamkan saja,” ungkap Muslih.

Namun, situasi tak terkendali saat Tito mulai berani mengeluarkan ancaman penghilangan nyawa yang ditujukan kepada Muslih dan Camat Pakenjeng.

“Saat berlalu, dia bicara…. kalau begitu, ku aing dipaehan Camat sakalaian jeung Kapolsekna,” ungkap Muslih menirukan ucapan Tito.

Mendengar ancaman serius tersebut, Muslih tidak tinggal diam dan langsung berusaha melumpuhkan pelaku untuk diamankan ke Mapolsek. Namun, Tito memberikan perlawanan yang berujung pada pertarungan sengit selama kurang lebih empat menit. Sang preman akhirnya berhasil ditaklukkan. Dari hasil penggeledahan, polisi menemukan senjata tajam berupa sebilah golok kecil yang disembunyikan pelaku.

Pilih Jalur Pembinaan Dibandingkan Hukum

Berdasarkan penyelidikan kepolisian, Tito Kobra yang dikenal kerap meresahkan warga Pakenjeng ini diduga kuat tengah berada di bawah pengaruh obat-obatan terlarang saat melancarkan aksinya. Kendati nyawanya sempat diancam dan harus beradu fisik, Iptu Muslih berbesar hati dan memilih untuk tidak melaporkan kasus ini ke jalur hukum.

“Meskipun kelakuannya seperti itu, tapi yang bersangkutan adalah masyarakat saya. Sudah menjadi kewajiban saya untuk melakukan pembinaan meskipun terkadang nyawa terancam,” ucap Muslih.

Sumber: detikJabar