BANDUNG, TINTAHIJAU.com – Di tengah berbagai kendala yang mewarnai pelaksanaan Pemetaan Calon Murid Baru (PCMB) Jawa Barat 2026, para guru di sejumlah sekolah negeri harus bekerja ekstra sebagai petugas help desk, verifikator hingga call center untuk membantu ribuan calon murid menyelesaikan proses pendaftaran.
Di SMAN 4 Bandung, para guru setiap hari melayani berbagai persoalan mulai dari dokumen yang gagal diunggah, akun terkunci, hingga masalah administrasi kependudukan. Bahkan, jam kerja mereka kerap berlangsung hingga larut malam.
“Saya sebagai petugas help desk. Jadi bertugas menelepon calon peserta SPMB yang bermasalah, kemudian kami telepon kembali ataupun memberikan informasi supaya memperbaiki berkasnya,” kata guru Sosiologi SMAN 4 Bandung, Kamaludin, Rabu (10/6/2026).
Menurut Kamaludin, banyak calon murid dan orang tua masih datang ke sekolah hingga malam hari untuk memperbaiki berkas pendaftaran.
“Alhamdulillah tiap hari sesuai jadwal. Namun ketika memerlukan waktu yang panjang, kadang-kadang sampai jam 9, jam 10 malam juga harus memperbaiki,” ujarnya.
Selain kendala dokumen, para petugas juga harus menghadapi kecemasan orang tua yang menunggu proses verifikasi. Tidak sedikit yang datang dengan nada tinggi karena khawatir anaknya gagal mendaftar.
“Sering, sering banget. Biasanya orang tua itu tidak sabar ingin segera mendapatkan informasi apakah anaknya sudah terverifikasi atau belum,” kata Kamaludin.
Hal serupa dialami guru Bimbingan Konseling, Risna Kartika, yang selama PCMB bertugas sebagai petugas call center. Bahkan akhir pekan pun digunakan untuk melayani calon murid dan orang tua.
“Iya, Sabtu Minggu juga masuk,” katanya.
Di balik tingginya beban kerja tersebut, Kepala SMAN 4 Bandung, Tuti Kurniawati, mengungkapkan jumlah pendaftar yang masuk telah melampaui kapasitas sekolah.
“Sampai saat ini pendaftar lebih dari seribu. Kalau dengan pilihan kedua dan ketiga sudah sekitar 2.100 pendaftar,” kata Tuti.
Dengan tim verifikator yang terbatas, proses pemeriksaan data harus dilakukan satu per satu sehingga para petugas kerap bekerja hingga malam.
“Yang harus kami verifikasi ini ribuan. Sementara tim verifikator di kami ada delapan orang,” ujarnya.
Meski menjadi sasaran berbagai keluhan selama proses PCMB berlangsung, pihak sekolah memastikan pelayanan kepada masyarakat tetap menjadi prioritas.
“Kami setiap hari briefing. Menguatkan teman-teman untuk tetap semangat dan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Siapapun yang datang dengan keluhan apa pun tetap kami layani,” tutur Tuti.
Sumber: detikJabar





