Ragam

Mengenal Istilah Ableisme yang Viral Setelah Tissue Challenge di TikTok

×

Mengenal Istilah Ableisme yang Viral Setelah Tissue Challenge di TikTok

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, TINTAHIJAU.com — Media sosial baru-baru ini diramaikan oleh tren baru bernama “Tissue Challenge” di platform TikTok. Meskipun awalnya dibuat sebagai hiburan, tren ini menuai kritik tajam dari banyak warganet. Pasalnya, gerakan dan ekspresi yang ditampilkan dalam tantangan tersebut dianggap menyerupai kondisi fisik atau mental penyandang disabilitas dan dijadikan sebagai bahan candaan.

Kontroversi ini memicu kembali perbincangan hangat mengenai istilah ableisme, sebuah bentuk diskriminasi yang dinilai dapat memperkuat stereotip negatif serta merendahkan pengalaman hidup para penyandang disabilitas.

Apa Itu Ableisme?

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ableisme didefinisikan sebagai stereotipe atau perlakuan berbeda yang ditujukan kepada orang berkebutuhan khusus atau orang yang memiliki keterbatasan.

Sementara itu, menurut American Psychological Association (APA), ableisme merupakan bentuk prasangka dan diskriminasi terhadap penyandang disabilitas yang sering kali disertai dengan anggapan keliru bahwa mereka perlu “disembuhkan” atau dipaksa untuk menyesuaikan diri dengan standar yang dianggap normal oleh masyarakat umum.

Secara sederhana, ableisme memandang penyandang disabilitas sebagai kelompok yang berada di bawah orang non-disabilitas. Konsep ini berangkat dari asumsi bahwa tubuh dan cara berpikir orang tanpa disabilitas merupakan standar utama atau parameter mutlak dalam kehidupan. Akibatnya, nilai dan harga diri seseorang sering kali diukur secara sepihak berdasarkan persepsi masyarakat mengenai apa yang dikategorikan sebagai kondisi “normal”.

Sama halnya dengan rasisme yang mendiskriminasi berdasarkan warna kulit, atau seksisme yang membedakan berdasarkan gender, ableisme merupakan bentuk diskriminasi nyata yang memojokkan kondisi fisik maupun mental seseorang.

Praktik Ableisme di Kehidupan Sehari-hari

Dalam realitas sosial, ableisme tidak selalu muncul secara terang-terangan seperti perundungan fisik. Sering kali, perilaku ini hadir dalam bentuk yang lebih halus, seperti komentar spontan, candaan, stereotip, hingga kebijakan sistemis yang tanpa disadari merugikan hak-hak penyandang disabilitas.

Mengutip data dari Disability & Philanthropy Forum, berikut adalah beberapa contoh ableisme yang masih sering kita temui di lingkungan sekitar:

  1. Menggunakan Istilah Sensitif sebagai Ejekan Memanfaatkan kata-kata seperti “cacat”, “autis”, “gila”, atau “bego” sebagai bahan candaan atau umpatan ketika seseorang melakukan kesalahan atau tindakan konyol.
  2. Memberikan Pujian yang Bernada Merendahkan (Condescending) Melontarkan pernyataan atau pujian terselubung yang sebenarnya menyinggung, misalnya: “Kamu kelihatan normal banget, kok bisa pakai kursi roda?”
  3. Mengabaikan Komunikasi Langsung Lebih memilih berbicara atau bertanya kepada pendamping/orang tua penyandang disabilitas, alih-alih berbicara langsung secara sopan kepada individu yang bersangkutan.
  4. Penyalahgunaan Fasilitas Khusus Menggunakan fasilitas publik yang sengaja disediakan khusus untuk kenyamanan penyandang disabilitas (seperti toilet khusus atau lift prioritas), meskipun diri sendiri dalam kondisi sehat dan tidak membutuhkannya.
  5. Infrastruktur yang Tidak Aksesibel Gedung bertingkat atau sarana transportasi umum yang dibangun tanpa menyediakan akses ramah disabilitas, seperti ramp (jalan landai) untuk kursi roda atau guiding block (ubin pemandu) bagi tunanetra.
  6. Diskriminasi di Dunia Kerja Kebijakan perusahaan yang menolak pelamar kerja hanya karena ia memiliki disabilitas fisik, padahal kemampuan, kompetensi, dan kualifikasi yang dimilikinya sudah sangat sesuai dengan posisi yang dilamar.

Viralnya Tissue Challenge menjadi alarm bagi kita semua untuk lebih bijak, berhati-hati, dan menumbuhkan empati dalam menggunakan media sosial. Konten yang dianggap lucu bagi sebagian orang bisa jadi merupakan bentuk diskriminasi yang menyakiti hati kelompok lain. Mengenal dan memahami ableisme diharapkan dapat menghentikan segala bentuk candaan ofensif serta mendorong terciptanya lingkungan sosial yang inklusif, ramah, dan setara bagi semua orang tanpa terkecuali.