Megapolitan

BGN Klarifikasi Isu 19 Ribu Sapi Potong per Hari untuk Program Makan Bergizi Gratis

×

BGN Klarifikasi Isu 19 Ribu Sapi Potong per Hari untuk Program Makan Bergizi Gratis

Sebarkan artikel ini
Foto: Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana. (REUTERS/Willy Kurniawan)

BEKASI, TINTAHIJAUA.com – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, memberikan klarifikasi terkait pernyataan sebelumnya mengenai pemotongan 19 ribu ekor sapi per hari untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pernyataan tersebut sempat memicu polemik dan keraguan dari kalangan akademisi terkait transparansi data serta ketersediaan stok nasional.

Dadan menjelaskan bahwa angka 19 ribu ekor sapi tersebut bukanlah angka realisasi harian di lapangan, melainkan sebuah simulasi atau pengandaian perhitungan. Hal ini disampaikan guna meluruskan kritik, salah satunya dari Guru Besar Fakultas Peternakan UGM, Prof. Panjono, yang mempertanyakan mengapa menu daging sapi jarang ditemukan dalam praktik MBG meski angka pemotongan diklaim tinggi.

“Ini hanya pengandaian. Jadi, satu SPPG (Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi), kalau dia masak daging sapi maka dia butuh satu ekor,” ujar Dadan usai meresmikan SPPG Pemuda Muhammadiyah di Bekasi, Selasa (21/4) seperti yang dimuat di laman detikHealth.

Menurut Dadan, angka 19 ribu didapat jika seluruh SPPG di Indonesia secara serentak memasak menu berbahan daging sapi. Ia merinci bahwa untuk satu kali proses memasak di tiap SPPG, dibutuhkan sekitar 350 hingga 382 kilogram daging, yang setara dengan bobot daging satu ekor sapi.

Lebih lanjut, Dadan menegaskan bahwa BGN sengaja tidak menerapkan kebijakan menu seragam secara nasional. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas harga pangan di pasar dan menghindari tekanan konsumsi yang berlebihan pada satu komoditas tertentu.

Ia mencontohkan kejadian saat perayaan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober lalu, di mana penyajian menu telur untuk 36 juta orang menyebabkan harga telur di pasar melonjak hingga Rp3.000.

“Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya harga telur sempat naik,” ungkapnya.

Oleh karena itu, BGN menginstruksikan agar penyusunan menu MBG disesuaikan dengan potensi sumber daya lokal dan preferensi masyarakat di masing-masing daerah. Selain daging sapi, menu MBG juga tetap mengandalkan sumber protein lain seperti ayam, telur, dan ikan.

“Kita ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal. Jadi kalau kita perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik,” pungkas Dadan.