MAJALENGKA, TINTAHIJAU.com — Suasana hangat dan tertib menyelimuti jalannya pemutaran film dokumenter berjudul ‘Pesta Babi’ yang digelar di sebuah angkringan, tidak jauh dari kawasan Bundaran Munjul, Kabupaten Majalengka, Kamis (14/5/2026) malam. Berbeda dengan sejumlah insiden pembubaran paksa yang marak terjadi di beberapa daerah lain, acara nonton bareng (nobar) di kota angin ini berlangsung aman, tertib, dan kondusif hingga akhir.
Sejumlah penonton yang memadati lokasi tampak serius menyimak setiap adegan dalam film garapan sutradara kondang Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Paju Dale tersebut. Agenda literasi audiovisual ini diinisiasi oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Majalengka yang berkolaborasi aktif dengan Komunitas Pancaloka.
Sepanjang acara, tidak terlihat adanya intimidasi, pembubaran, maupun intervensi dari aparat keamanan. Presiden BEM Universitas Majalengka, Nendi Nurdiana, mengungkapkan bahwa jaminan kondusifitas ini tidak lepas dari strategi komunikasi dan koordinasi matang yang dilakukan panitia sebelum kegiatan dimulai.
“Tujuan nonton bersama ini bukan untuk hal-hal negatif, melainkan wadah positif agar mahasiswa dan masyarakat mengetahui realitas di Papua serta menjadikannya refleksi di Majalengka sendiri,” ujar Nendi saat diwawancarai pasca-acara seperti yang dilansir dari laman detikcom, dikutip Sabtu (16/5/2026).
Nendi menambahkan, kelancaran acara juga dipengaruhi oleh keputusan taktis pemindahan waktu dan lokasi. Sedianya, acara direncanakan bertempat di dalam lingkungan kampus Universitas Majalengka. Namun demi memperluas aksesibilitas, panitia mengalihkan lokasi ke ruang publik berupa angkringan di sekitaran Bundaran Munjul. Langkah penempatan di ruang terbuka ini sengaja dipilih agar isu yang diangkat bisa diakses secara inklusif oleh publik luas, tidak terbatas pada segmentasi mahasiswa saja.
Tercatat, lebih dari 50 peserta memadati area angkringan, yang datang dari berbagai unsur perwakilan BEM se-Majalengka, penggiat Komunitas Pancaloka, hingga masyarakat umum.
Soroti Isu Papua dan Ancaman Lahan Lokal
Isu sentral yang memicu diskusi hangat pasca-pemutaran adalah kondisi masyarakat adat di Papua serta imbas Proyek Strategis Nasional (PSN) terhadap penyusutan ruang hidup mereka. Nendi menilai, ‘Pesta Babi’ secara gamblang memotret relasi kuasa aparat dalam melanggengkan agenda negara yang kerap mengorbankan kelestarian lingkungan.
Menariknya, keresahan sosial di tanah Papua tersebut dinilai mulai membayangi Kabupaten Majalengka seiring masifnya ekspansi sektor industri dan PSN lokal. Mahasiswa mengkhawatirkan tren pembangunan ini akan mempercepat laju alih fungsi lahan pertanian produktif di daerah mereka.
“Kami mendesak Pemerintah Daerah agar konsisten memedomani aturan dalam melindungi Lahan Sawah yang Dilindungi (LSD). Pembangunan jangan sampai menyingkirkan sektor agraria demi kepentingan politik semata,” tegas Nendi memberikan refleksi.
Senada dengan hal itu, Founder Komunitas Pancaloka, Muhammad Rifki Ramdoni, memastikan bahwa gerakan literasi serupa di wilayah Ciayumajakuning (Cirebon, Indramayu, Majalengka, Kuningan) sejauh ini aman terkendali berkat langkah antisipasi dini. Pancaloka tercatat telah tiga kali menggelar nobar film ini di wilayah Cirebon dan Majalengka melalui kolaborasi dengan berbagai kampus.
Rifki mengimbau dan mengajak kelompok masyarakat serta komunitas lain agar tidak perlu takut terhadap ancaman pembungkaman atau intimidasi luar sana, selama gerakan diskusi yang dibangun berbasis pada edukasi ilmiah serta penyajian data kondisi riil lapangan.





