ARAFAH, TINTAHIJAU.com — Puncak ibadah haji di Padang Arafah pada Selasa (26/5/2026) menjadi momentum refleksi spiritual mendalam bagi jemaah haji Indonesia. Dalam khutbah wukufnya, Khatib Wukuf sekaligus Anggota Amirulhaj Indonesia, Asep Saifuddin Chalim, mengingatkan bahwa esensi utama dari kepulangan ke Tanah Air bukanlah seberapa banyak membawa cendera mata fisik, melainkan seberapa besar perubahan menuju pribadi yang bertakwa.
Asep mengajak seluruh jemaah menjadikan momen wukuf di Arafah sebagai titik balik untuk kembali kepada Allah SWT dengan hati yang bersih dan kualitas keimanan yang lebih baik.
“Oleh-oleh terbaik dari haji adalah takwa, hati yang lebih bersih, hidup yang lebih dekat kepada Allah, kesediaan untuk menjadi manusia yang lebih bermanfaat,” ungkap Asep di hadapan para jemaah haji Indonesia seperti yang dilansir dari laman KOMPAS.tv, dikutip Rabu (27/5/2026).
Hamparan Padang Arafah, lanjut Asep, menjadi pengingat yang sangat kuat bahwa kemuliaan seseorang sama sekali tidak diukur dari status sosial, harta, maupun jabatan. Seluruh jemaah dipersatukan oleh tauhid tanpa sekat bahasa, warna kulit, ataupun latar belakang bangsa, murni berdiri sejajar sebagai hamba di hadapan Sang Pencipta.
“Di tempat ini semua hadir sebagai hamba. Semua memohon ampun. Semua mengharap rahmat Allah,” tambahnya.
Mengukur Esensi Haji Mabrur
Dalam kesempatan tersebut, Asep menjabarkan bahwa predikat “haji mabrur” tidak lantas berhenti saat rangkaian ritual selesai dikerjakan. Ukuran kemabruran justru diuji dan dibuktikan melalui perubahan perilaku setelah jemaah kembali ke lingkungan asalnya.
Indikator haji mabrur termanifestasi dalam wujud:
- Hati yang lebih lembut dan bijaksana.
- Kualitas ibadah yang lebih terjaga.
- Lisan yang lebih santun.
- Sikap yang lebih sabar.
- Tingkat kepedulian dan kesalehan sosial yang lebih nyata di tengah masyarakat.
Mendukung Program “Tri Sukses Haji”
Lebih jauh, Asep juga memaparkan visi pemerintah yang tertuang dalam program “Tri Sukses Haji”. Program ini dirancang untuk memastikan pelaksanaan haji membawa dampak yang komprehensif, mencakup tiga aspek utama:
- Sukses Ritual: Kesesuaian seluruh pelaksanaan ibadah dengan tuntunan syariat Islam.
- Sukses Ekosistem Ekonomi Haji: Mengarahkan pengelolaan dana dan layanan agar berjalan amanah dan transparan, sehingga mampu memberikan dampak langsung bagi kemandirian ekonomi umat dan bangsa.
- Sukses Keadaban dan Peradaban: Membentuk karakter jemaah yang mampu membawa nilai kedamaian, sekaligus mempererat persaudaraan sosial usai beribadah.
“Haji bukan hanya membentuk kesalehan pribadi, tetapi juga harus menguatkan kesalehan sosial dan menjadi katalisator peradaban bangsa,” tegasnya.
Sebagai penutup, Asep menitipkan harapan besar agar jemaah haji Indonesia tiba di Tanah Air tidak semata-mata membawa pulang gelar “Haji” atau “Hajjah”, melainkan benar-benar hadir sebagai agen perubahan akhlak, penebar keteladanan, dan pelayan sesama dalam kehidupan sehari-hari.



