Ragam

Survei APPRI: Relasi Media dan PR Kian Dinamis di Tengah Tekanan Industri Digital

×

Survei APPRI: Relasi Media dan PR Kian Dinamis di Tengah Tekanan Industri Digital

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, TINTAHIJAU.COM – Hubungan antara jurnalis dan praktisi kehumasan atau public relations (PR) dinilai terus mengalami perubahan seiring perkembangan teknologi, tekanan industri media, serta meningkatnya ekspektasi publik terhadap kualitas informasi.

Hal itu tergambar dalam Hasil Survei Persepsi Media Terhadap Profesi dan Kualitas Kerja Public Relations yang dirilis Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI).Survei yang dilakukan pada paruh pertama 2025 tersebut melibatkan 31 perusahaan media.

Sebanyak 20 di antaranya merupakan media nasional, sementara sisanya berasal dari media sektoral, media berbasis komunitas, media lokal, dan media internasional.Ketua Umum APPRI, Sari Soegondo, menyebut industri media saat ini menghadapi tantangan besar, terutama dalam menjaga independensi ruang redaksi di tengah tekanan finansial.

“Ada satu toleransi besar yang terpaksa diakomodir. Media sulit menjaga independensi ruangnya karena harus banyak bertoleransi dengan kepentingan finansial,” ujar Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Public Relations Indonesia (APPRI), Sari Soegondo.

Oleh karena itu, ia melanjutkan, para praktisi kehumasan perlu menyikapinya dengan baik.Hasil survei menunjukkan, sebagian besar responden menilai praktisi PR masih cenderung berpihak pada kepentingan klien, sementara upaya menjaga objektivitas belum dinilai konsisten.

Selain itu, materi informasi yang disampaikan juga disebut kerap belum memenuhi standar nilai berita, sehingga masih membutuhkan penyesuaian sebelum layak dipublikasikan.Di sisi lain, PR dinilai tetap memiliki peran penting dalam menghadirkan informasi yang sahih di tengah maraknya disinformasi.

Kontribusi tersebut dianggap semakin penting ketika publik dibanjiri informasi yang belum tentu terverifikasi.Meski demikian, sejumlah catatan kritis masih muncul, mulai dari praktik follow-up berlebihan hingga keterbatasan akses terhadap narasumber. Transparansi dan hubungan kerja yang lebih setara antara media dan PR juga menjadi harapan responden.

Wakil Ketua Umum Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (Perhumas), Dian Agustine Nuriman, menegaskan pentingnya membangun kepercayaan sebagai fondasi profesi kehumasan.

“Membangun kredibilitas informasi ini merupakan aset yang terpenting,” ujar Dian di Jakarta baru-baru ini.

Meningkatnya kepercayaan publik terhadap media di Indonesia yang mencapai 36 persen berdasarkan Digital News Report 2026 dinilai menjadi peluang untuk menghadirkan informasi yang akurat dan dapat diandalkan.

Dalam kondisi tersebut, praktisi PR dinilai perlu memahami cara kerja media yang kini menghadapi tekanan kecepatan, tuntutan kuantitas, dan persaingan perhatian publik.

Dukungan berupa data yang jelas, narasumber yang siap, hingga materi visual yang kuat disebut tidak hanya membantu kerja jurnalis, tetapi juga meningkatkan peluang informasi dipahami publik secara utuh.

Selain itu, pendekatan komunikasi juga dinilai perlu bergeser. Informasi yang bersifat kaku dan normatif dianggap semakin sulit menarik perhatian, sehingga kemampuan menyusun narasi atau storytelling menjadi kebutuhan penting bagi praktisi PR.

Perubahan itu sejalan dengan pandangan Marshall McLuhan melalui Media Ecology Theory yang menyebut teknologi komunikasi tidak hanya menjadi saluran, tetapi juga memengaruhi cara masyarakat berpikir dan memahami pesan.

Pada akhirnya, relasi media dan PR dinilai tetap bertumpu pada kepercayaan jangka panjang. Ketika keduanya mampu membangun ritme kerja yang sehat, kualitas informasi publik dinilai akan semakin terjaga sekaligus menopang keberlanjutan industri media.